Facebook

Followers

Makalah Lengkap Mikroba Pelarut Fosfat

Written By Media Pertanian on Friday, August 12, 2022 | 2:47 PM

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Unsur fosfat (P) adalah unsur esensial kedua setelah N yang ber- peran penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Ketersediaan fosfat dalam tanah jarang yang melebihi 0,01% dari total P. Sebagian besar bentuk fosfat terikat oleh koloid tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Tanah dengan kandungan organik rendah seperti Oksisols dan Ultisols yang banyak terdapat di Indonesia kandungan fosfat dalam organik bervariasi dari 20-80%, bahkan bisa kurang dari 20% tergantung tempat. Demikian juga kebanyakan lahan sawah di Indonesia telah jenuh fosfat. Fosfat tersebut tidak dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tanaman, karena fosfat dalam bentuk P-terikat di dalam tanah, sehingga petani tetap melakukan pemupukan P di lahan sawah walaupun sudah terdapat kandungan P yang cukup memadai.

Fosfat merupakan salah satu unsur makro esensial bagi kehidupan tumbuhan dan biota tanah (Raharjo dkk., 2007). Kesuburan tanah, ketersediaan unsur hara esensial seperti fosfat, keberadaan akan mikroba yang berperan dalam proses pelarutan fosfat di dalam tanah mempengaruhi tingkat produksi dalam bidang pertanian (Ilham dkk., 2014). Fosfat sebenarnya terdapat dalam jumlah yang melimpah dalam tanah, namun sekitar 95-99% terdapat dalam bentuk fosfat tidak terlarut sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman (Raharjo dkk., 2007).

Ketersediaan fosfat bagi tanaman dapat ditanggulangi dengan agen hayati berupa mikroorganisme yang mampu melarutkan fosfat di tanah secara alami (biofertilizer) (Ulfiyati dan Zulaika, 2015). Dalam hal ini suplai sebagian unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat dilakukan oleh mikroba pelarut fosfat (Wardhani dkk., 2014). Sebagian besar mikrobia tanah berpotensi sebagai biofertilizer, terutama mikrobia yang hidup pada daerah perakaran (rhizosphere) (Widawati dkk., 2008). Mikroba pelarut fosfat sering ditemukan berasosiasi di dalam tanah rizosfer. Mikroba rizosfer adalah salah satu alternatif yang dapat membantu pertumbuhan tanaman, produktivitas tanaman, dan kualitas tanaman pada lahan yang kurang subur seperti lahan dengan pH rendah. Bakteri rizosfer dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi anorganik untuk tanaman (Campbell, 1995).

Fosfat di dalam tanah ditemukan dalam bentuk organik sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Aktivitas mikroba pelarut fosfat dapat dimanfaatkan untuk penyediaan unsur hara fosfat bagi tanaman. Peningkatan ketersediaan unsur P ini disebabkan karena mikroba pelarut fosfat mampu mengeluarkan asam-asam organik seperti asam sitrat, glutamate, suksinat dan glioksalat yang dapat mengkhelat Fe, Al, Ca, dan Mg sehingga fosfor yang terikat menjadi larut dan tersedia (Permatasari dan Nurhidayati, 2014). Pada tanah-tanah masam, fosfat akan bersenyawa dalam bentuk-bentuk Al-P, Fe-P, dan occluded-P, sedangkan pada tanah-tanah alkali, fosfat akan bersenyawa dengan kalsium (Ca) sebagai Ca-P membentuk senyawa kompleks yang sukar larut.

Adanya pengikatan-pengikatan fosfat tersebut menyebabkan pupuk fosfat yang diberikan tidak efisien, sehingga perlu diberikan dalam takaran tinggi. Pemberian pupuk fosfat ke dalam tanah, hanya 15-20% yang dapat diserap oleh tanaman. Sedangkan sisanya akan terjerap di antara koloid tanah dan tinggal sebagai residu dalam tanah (Buckman dan Brady, 1956; Jones, 1982). Hal ini akan menyebabkan defisiensi fosfat bagi pertumbuhan tanaman.

Salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat dalam mengatasi rendahnya fosfat tersedia dalam tanah adalah dengan memanfaatkan kelompok mikroorganisme pelarut fosfat, yaitu mikro- organisme yang dapat melarutkan fosfat tidak tersedia menjadi tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman. Pemanfaatan mikro-organisme pelarut fosfat diharapkan dapat mengatasi masalah P pada tanah masam (Sundara Rao dan Sinha, 1963; Asea et al., 1988; Saleh et al., 1989).

Berdasarkan hal tersebut sehingga makalah ini disusun untuk memberikan informasi terkait dengan mikroba pelarut fosfat.

1.2         Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud mikroba pelarut fosfat?

2.      Bagaimana penyebaran mikroba pelarut fosfat?

3.      Bagaimana mekanisme kerja mikroba fosfat?

4.      Bagaimana pengaruh mikroba perlarut fosfat terhadap pertumbuhan tanaman?

1.3         Tujuan

1.      Untuk mengetahui mikroba pelarut fosfat.

2.      Untuk mengetahui penyebaran pelarut fosfat.

3.      Untuk mengetahui mekanisme kerja mikroba fosfat.

4.      Untuk mengetahui pengaruh mikroba pelarut fosfat terhadap pertumbuhan tanaman.


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1         Mikroba Pelarut Fosfat

Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan kelompok mikroorganisme tanah yang berkemampuan melarutkan P yang terfiksasi dalam tanah dan mengubahnya menjadi bentuk yang tersedia sehingga dapat diserap tanaman. Mikroorganisme pelarut fosfat ini dapat berupa bakteri (Pseudomonas, Bacillus, Escheria, Actinomycetes, dan lain lain). Sekitar sepersepuluh sampai setengah jumlah baketri yang diisolasi dari tanah mampu melarutkan fosfat, jumlah bakteri tersebut berkisar 105 – 107 per gram tanah adan banyak dijumpai di  daearah  perakaran  tanaman.  Menurut Rodriquezz dan Fraga (1999) dari beberapa  strain  bakteri, ternyata genus Pseudomonas dan Bacillus mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melarutkan fosfat.

Sen dan Paul (1957) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24, Bacillus substilis, Bacterium mycoides, dan B. mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat, lesitin, tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P, Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4, Ca3(PO4)2, gliserofosfat, lesitin, dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7, 3-9, 3-13, 5-21, dan 14%. Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus, hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.3, 0.9, dan 0.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan, dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.

Sundara Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium, Bacillus sp, Escherechia freundii, dan E. intermedia. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0.8-3.7 ppm pada tanah non steril dan 0.1-3.6 ppm pada tanah steril.

Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut P juga telah banyak dilakukan, jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Penicillium sp. Kelompok Penicillium sp mampu melarutkan 26-40% Ca3(PO4)2, sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18% (Chonkar dan Subba Rao, 1967). Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pelarutan Ca-P. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2, AlPO4 dan FePO4, sedangkan Aspergillus niger yang diteliti olah Anas et al. (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larut dari media batuan fosfat, yakni lebih dari 10 kali lipat.

2.2         Penyebaran Mikroba Pelarut Fosfat

Umumnya mikroorganisme pelarut fosfat secara alami berada di tanah berkisar 0,1-0,5% dari total populasi mikroorganisme (Kucey, 1983). Populasi mikroorganisme pelarut fosfat dari kelompok bakteri jauh lebih banyak dibandingkan dengan kelompok fungi. Jumlah populasi bakteri pelarut fosfat dapat mencapai 12 juta organisme per gram tanah sedangkan fungi pelarut fosfat hanya berkisar dua puluh ribu sampai dengan satu juta per gram tanah (Alexander, 1977).

Mikroorganisme ini hidup terutama di sekitar perakaran tanaman, yaitu di daerah permukaan tanah sampai kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Keberadaan mikroorganisme ini berkaitan dengan banyaknya jumlah bahan organik yang secara langsung mempengaruhi jumlah dan aktivitas hidupnya. Akar tanaman mempengaruhi kehidupan mikroorganisme dan secara fisiologis mikroorganisme yang berada dekat dengan daerah perakaran akan lebih aktif daripada yang hidup jauh dari daerah perakaran.

Keberadaan mikroorganisme pelarut fosfat dari suatu tempat ke tempat lainnya sangat beragam. Salah satu faktor yang menyebabkan keragaman tersebut adalah sifat biologisnya. Ada yang hidup pada kondisi asam, dan ada pula yang hidup pada kondisi netral dan basa, ada yang hipofilik, mesofilik, dan termofilik, ada yang hidup sebagai aerob dan ada yang anaerob, dan beberapa sifat lain yang bervariasi. Masing-masing mikroorganisme memiliki sifat-sifat khusus dan kondisi lingkungan optimal  yang berbeda-beda yang mempengaruhi efektivitasnya melarutkan fosfat.

Pertumbuhan mikroorganisme pelarut fosfat sangat dipengaruhi oleh kemasaman tanah. Pada tanah masam, aktivitas mikroorganisme didominasi oleh kelompok fungi sebab pertumbuhan fungi optimum pada pH 5-5,5. Pertumbuhan fungi menurun bila pH meningkat. Fungi dalam tanah berbentuk miselium vegetatif ataupun spora (Waksman dan Starkey, 1981). Miselium atau filamen fungi tersebar di antara partikel tanah dan tersusun dalam hifa-hifa, ada yang bersepta dan ada yang tidak.

Sebaliknya pertumbuhan kelompok bakteri optimum pada pH sekitar netral dan meningkat seiring dengan meningkatnya pH tanah. Secara umum bakteri pelarut fosfat yang dominan yang diisolasi dari rizosfer tanah termasuk ke dalam golongan mikroorganisme aerob pembentuk spora (Taha et al., 1969), hidup pada kisaran pH 4-10,6 (Sen dan Paul, 1957).

Populasi bakteri pelarut fosfat umumnya lebih rendah pada daerah yang beriklim kering dibandingkan dengan daerah yang beriklim sedang. Karena bentuk dan jumlah fosfat dan bahan organik yang terkandung dalam tanah berbeda-beda, maka keefektifan tiap mikro-organisme pelarut fosfat untuk melarutkan fosfat berbeda pula. Penggunaan mikroorganisme pelarut fosfat masih menghadapi beberapa kendala seperti faktor tanah, karena setiap jenis tanah mempunyai bentuk fosfat yang berbeda-beda antara lain pada lahan masam bentuk fosfat didominasi oleh Al-P, Fe-P atau occluded- P sedangkan pada lahan basa didominasi oleh bentuk Ca-P. Jadi masing- masing lahan seperti itu memerlukan inokulan pelarut fosfat yang berbeda.

Penelitian jasad renik pelarut P juga banyak dilakukan di India, Kanada, dan Mesir dengan tujuan untuk melarutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul, 1957; Kundu dan Gaur, 1980; Subba Rao, 1977; 1982). Pemanfaatan jamur tanah yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Das (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Penicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander, 1978). Bakteri yang sering dilaporkan dapat melarutkan P antara lain adalah anggota-anggota genus Pseudomonas, Bacillus, Mycobacterium, Micrococcus, Flavobacterium, Bacterium, Citrobacter, dan Enterobacter (Alexander, 1978; Buntan, 1992; Premono, 1994; Illmer et al., 1995; Elfiati, 2005).

2.3         Mekanisme Kerja Mikroba Pelarut Fosfat

Fosfor relatif tidak mudah tercuci, tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia, yaitu dalam bentuk Ca-P, Mg-P, Al-P, Fe-P atau Occuded-P. dalam aktivitasnya mikroba pelarut P akan menghasilkan asam-asam organic diantaranya ialah asam sitrat, glutamate, sukimat, laktat, oksalat, glioksalat, malat, fumarate, tartarat dan α-ketobutirat (Alexander, 1978; Subba Rao, 1994; Illmer et al., 1995; Beaucamp dan Hume, 1997). Meningkatnya asam-asam organic tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH, sehingga mengakibatkan terjadinya pelarutan P yang terikat Ca. penurunan pH juga dapat disebabkan terbebasnya asam sulfat dan nitrat pada oksidasi kemoautotrofik sulfur dan ammonium, berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas (Alexander, 1978).

Mekanisme mikroorganisme dalam melarutkan P tanah yang terikat dan P yang berasal dari alam diduga karena asam-asam organic yang dihasilkan akan bereaksi dengan AlPO4, FePO4, dan Ca(PO4)2, dari reaksi tersebut terbentuk khelat organik dari Al, Fe, dan Ca sehingga P terbebaskan dan larut serta tersedia untuk tanaman (Subba rao, 1982b; Illmer et al., 1995). Menurut Illmer dan Schinner (1995) , jenis bakteri (Pseudomonas sp dan Pseudomonas aurantiogesum) lebih efektif dalam melarutkan P dalam bentuk Ca-P seperti apatit dan brushit, sedangkan jenis fungi (Aspergillus niger dan Penicillum simplicissimum) lebih efektif dalam melarutkan P dari bentuk Al-P.

IIImer dan Schinner (1995) menyatakan bahwa mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut banyak dikaitkan dengan aktivitas mikroba yang mempunyai kemampuan menghasilkan enzim fosfatase, fitase, dan asam organik hasil metabolisme seperti asam asetat, propionat, glikolat, fumarat, oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, laktat, dan ketoglutarat. Tetapi pelarutan P dapat pula dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak menghasilkan asam organik, yaitu melalui, (1) mekanisme pelepasan proton (ion H+) pada proses respirasi, (2) asimilasi amonium (NH4 +), dan (3) adanya kompetisi antara anion organik dengan ortofosfat pada permukaan koloid yang dapat pula menyebabkan terjadinya movilizáis ortofosfat (IIImer dan Schinner (1995).

Menurut Narsian dan Patel (2000) pelarutan P oleh mikroorganisme pelarut fosfat selain terjadi karena proses kelasi dan reaksi pertukaran, juga disebabkan oleh menurunnya pH rizosfer akibat adanya asam oragnik. Sebelumnya Kirk (1999) berpendapat bahwa mekanisme utama agar tanaman dapat mengekstrak P dari sumbersumber yang tidak dapat larut terjadi melalui: produksi asam organic yang dapat menyebabkan pH rizosfer menurun (penurunan pH itu menjadi penting jika banyak asam organik yang diekskresikan). Produksi asam organik yang dapat berkompetisi dengan P pada tempat adsorpsi, dan produksi asam organik dapat membentuk kompleks yang dapat larut dengan ion logam dan membebaskan P. Tan (1995) menyatakan bahwa selain enzim fosfatase yang dihasilkan oleh BPF yang dapat menghasilkan fosfat bebas, ada pula lain lain yaitu enzim fitase, firofosfatase, dan metafosfatase.

2.4         Pengaruh Mikroba Pelarut Fosfat terhadap Pertumbuhan Tanaman

Pada tanaman jagung, Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al., 1991) mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30%. Pada percobaan yang lain (Buntan, 1992; Premono dan  Widyastuti, 1993), P. putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%, dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit, tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae (Buntan, 1992) pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%, sedangkan Lestari (1994) yang menguji Aspergillus niger, menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.

Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut P (P. putida dan P. fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (Premono, 1994). Penelitian Setiawati (1998) pada tanaman tembakau, dengan menginokulasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman.

Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp.) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung, bayam, dan kacang panjang). Menurut Dubey (1997) inokulasi dengan P. striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikokulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan.

Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh, terutama oleh mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P. putida dan P. striata. Mikroba-mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3) (Arshad dan Frankenberger, 1993; Patten dan Glick, 1996).

Beberapa bakteri pelarut fosfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah dan potensial sebagai agen biokontrol untuk digunakan secara komersial di rumah kaca maupun di lapangan (Arshad dan Frankenberger, 1993). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off dari tebu. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol, suatu metabolit sekunder yang dapat menghalangi dumping-off Phytium ultium (Frenton et al., 1992). Di samping itu bakteri P. fluorescens ini juga dapat mengontrol perkembangan jamur Sclerotium roefsii pada tanaman kacang-kacangan.

Herman dan Pranowo (2013) dalam penelitiannya yaitu pengaruh mikroba pelarut fosfat terhadap pertumbuhan dan serapan hara P pada benih kakao memiliki pengaruh yang nyata dibanding dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian disajikan sebagai berikut.

Tabel 1. Pertambahan tinggi benih kakao umur 3, 6, 9 dan 12 minggu setelah perlakuan




Sumber: Herman dan Pranowo, 2013.


Tabel 2. Serapan P oleh benih kakao setelah 12 minggu setelah tanam         

 

 

 

 

 

Sumber: Herman dan Pranowo, 2013.

Beberapa mekanisme pelarutan P oleh mikroba pelarut fosfat (MPF) adalah dengan pelepasan asam organik dan anorganik, dan ekskresi proton yang menyertai asimilasi NH4+. Selain itu, juga terdapat mekanisme pelepasan enzim fosfatase yang memineralisasi P organik (Vega, 2007). Bakteri pelarut fosfat dapat memproduksi beberapa asam organik seperti asam monokarboksilat (asetat, format), monokarboksilat hidroksi (laktat, glukonat, dan glikolik), monocarboxylic, ketoglukonat, dekarboksilat (oksalat dan suksinat), dikarboksilat hidroksi (malat dan maleat) dan asam trikarboksilat hidroksi (sitrat) (Ramkumar dan Kannapiran, 2011). Bakteri pelarut fosfat juga dapat menghasilkan fitohormon seperti Indole Acetic Acid (IAA) dan Gibberellic Acid (GA3), produksi siderofor, dan antagonis terhadap patogen (Nenwani et al., 2010; Ramkumar dan Kannapiran, 2011; Parani dan Saha, 2012).

Beberapa hasil penelitian penggunaan mikroba pelarut P pada berbagai jenis tanaman menunjukkan hasil yang positif terhadap pertumbuhan dan serapan hara. Penggunaan mikroba pelarut P seperti Bacillus pantotheticus, Klebsiella aerogenes, Chromobacterium lividum, dan Bacillus megaterium pada tanaman caysin (Brassica caventis Oed.) menghasilkan bobot daun segar dan bobot tanaman segar (Widawati dan Suliasih, 2006). Aplikasi inokulum mikroba pelarut P yang disertai dengan pupuk anorganik NPK 50% dari takaran optimal pada benih lada (Piper nigrum L.) memberikan pengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah cabang serta dapat meningkatkan bobot segar dan kering tajuk, serapan hara N, P, dan K (Herman et al., 2012). Penggunaan MPF yang dikombinasikan dengan guano kelelawar dan kompos daun gamal dapat meningkatkan tinggi tanaman sebanyak 70,83%, jumlah cabang sebesar 153,20%, dan jumlah daun 92,26% dibandingkan kontrol dan terdapat interaksi yang nyata antara MPF, guano kelelawar, dan kompos daun glirisida terhadap peningkatan tinggi tanaman, jumlah cabang, dan jumlah daun lada perdu (Ruhnayat, 2007). Goenadi et al. (1997) menemukan bahwa penggunaan pupuk hayati emas (PHE) sebanyak 50 kg per hektar dan 50 % pupuk anorganik pada tanaman karet menghasilkan produksi lateks lebih tinggi dibanding hanya menggunakan pupuk inorganik saja. PHE adalah pupuk hayati yang mengandung mikroba penambat N dan P. Hasil penelitian Nasaruddin (2012) menunjukkan bahwa inokulasi Azotobacter dan mikoriza, keduanya merupakan mikroba pelarut P, berkorelasi positif secara linier dengan pertumbuhan benih kakao dan berkorelasi positif kuadratik dengan bobot kering akar benih kakao sampai umur 4 bulan setelah tanam.


 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari makalah diatas, dapat disimbulkan bahwa:

1.      Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan kelompok mikroorganisme tanah yang berkemampuan melarutkan P yang terfiksasi dalam tanah dan mengubahnya menjadi bentuk yang tersedia sehingga dapat diserap tanaman.

2.      Mikroba pelarut fosfat hidup di sekitar perakaran tanaman, yaitu di daerah permukaan tanah sampai kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Keberadaan mikroorganisme ini berkaitan dengan banyaknya jumlah bahan organik yang secara langsung mempengaruhi jumlah dan aktivitas hidupnya.

3.      Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut banyak dikaitkan dengan aktivitas mikroba yang mempunyai kemampuan menghasilkan enzim fosfatase, fitase, dan asam organik hasil metabolisme seperti asam asetat, propionat, glikolat, fumarat, oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, laktat, dan ketoglutarat.

4.      Mikroba pelarut fosfat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui proses fiksasi P yang tidak tersedia menjadi tersedia sehingga penyerapan unsur hara P dapat meningkat, selain itu bakteri pelarut fosfat juga dapat menghasilkan fitohormon seperti Indole Acetic Acid (IAA) dan Gibberellic Acid (GA3), produksi siderofor, dan antagonis terhadap patogen.

3.2  Saran

Dengan melihat peranan mikroba dalam menyediakan unsur hara fosfor, maka perlu dikaji lebih mendalam terkait jenis-jenis mikroba yang bermanfaat bagai tanaman.


 

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M. 1978. Introduction to Soil Microbiology. 2nd ed. Willey Eastern Limited. New Delhi.

Arshad, M and W.T. Frankenberger. 1993. Microbial production of plant growth regulators. In. F.B. Metting (ed). Soil Microbial Ecology. Marcel Dekker,Inc. New York, Basel, Hongkong. p 307-347.

Beauchamp, E.G and D.J. Hume. 1997. Agricultural soil manipulation: The use of bacteria, manuring and plowing. In J.D. van Elsas., J.T. Trevors and E.M.H. Wellington (eds). Modern Soil Microbiology. Marcel Dekker, New York. p 643-664.

Buntan, A. 1992. Efektifitas bakteri pelarut fosfat dalam kompos terhadap peningkatan serapan P dan efisiensi pemupukan P pada tanaman jagung. Tesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Dubey, S.K. 1997. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on Vertisol. J. Indian Soc. Soil Sci. 45: 506-509.

Goenadi, D. H., R. Stakaranwati, Y. Away, dan Herman. 1997. Produksi Biofertilizer untuk Efisiensi Penggunaan Pupuk dalam Budidaya Tanaman yang Aman Lingkungan. Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan. Bogor.

Herman M. dan D. Pranowo. 2013. Pengaruh Mikroba Pelarut Fosfat terhadap Pertumbuhan dan Serapan Hara P Benih Kakao (Theobroma cacao L.). Buletin Ristri 4 (2): 129-138.

Herman, M., K. D. Sasmita, dan D. Pranowo. 2012. Pemanfaatan mikroba rizosfer untuk meningkatkan pertumbuhan dan serapan hara pada tanaman lada. Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri 3 (2): 143-150.

Illmer, P., A. Barbato and F. Schinner. 1995. Solubilizing of hardly soluble AlPO4 with P-solubilizing microorganism. Soil Biol. Biochem. 27:265-270.

Lestari, P. 1994. Pengaruh fungi pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Skripsi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Nasaruddin. 2012. Respon pertumbuhan benih kakao terhadap inokulasi Azotobacter dan mikoriza. J. Agrivigor 11 (2): 300-315.

Nenwani, V., P. Doshi, T. Saha, dan S. Rajkumar. 2010. Isolation and characterization of a fungal isolate for phosphate solubilization and plant growth promoting activity. Journal of Yeast and Fungal Research 1 (1): 009-014.

Pal, S.S. 1998. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops. Plant Soil. 198: 169-177.

Parani, K. dan B. K. Saha. 2012. Prospects of using phosphate solubilizing Pseudomonas as bio fertilizer. European Journal of Biological Sciences 4 (2): 40-44.

Patten, C.L and B.R. Glick. 1996. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic acid. Can. J. Microbiol 42:207-220.

Premono, E.M. 1994. Jasad renik pelarut fosfat, pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Disertasi. Program Pascasarjana IPB.

Raharjo, B, A. Suprihadi, Agustina D.K. 2007. Pelarutan fosfat anorganik oleh kultur campur jamur pelarut fosfat secara in vitro. Jurnal Sains & Matematika 15 (2): 45-54.

Ramkumar, S. dan E. Kannapiran. 2011. Isolation of total heterotrophic bacteria and phosphate solubilizing bacteria and in vitro study of phosphatase activity and production of phytohormones by PSB. Archives of Applied Science Research 3 (5): 581-586.

Ruhnayat, A. 2007. Pemanfaatan Pupuk Bio dan Pupuk Alam untuk Mendukung Budidaya Organik Pada Tanaman Lada dan Vanili. http://balittro.litbang.deptan.go.id. Diakses 30 Oktober 2020.

Setiawati, T.C. 1998. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau Besuki Na-Oogst (Nicotiana tabacum L.). Tesis. Program Pascasarjana. IPB. Bogor.

Subba Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi ke dua. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press.

Vega, N. W. O. 2007. A review on beneficial effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Revista Facultad Nacional de AgronomĂ­a -MedellĂ­n 60 (1): 3621-3643.

Widawati, S. dan Suliasih. 2006. Augmentasi bakteri pelarut fosfat (BPF) potensial sebagai pemacu pertumbuhan caysin (Brasica caventis Oed.) di tanah marginal. Biodiversitas 7 (1): 10-14.
2:47 PM | 0 komentar | Read More

Makalah Lengkap Peran Mikroba Mikoriza terhadap Tanaman

 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikoriza adalah jamur yang hidup di dalam tanah dan dapat berasosiasi dengan tumbuhan. Mikoriza yang terbentuk pada tumbuhan dapat dibedakan berdasar struktur tumbuh dan cara infeksinya pada sistem perakaran inang yang dikelompokkan ke dalam tiga golongan besar yaitu ektomikoriza (ECM), endomikoriza (VMA atau FMA) dan ektendomikoriza (Setiadi, 2001). Jika dibandingkan dengan tumbuhan yang tidak memiliki mikoriza, akar tumbuhan yang memiliki mikoriza ternyata lebih efisien karena penyerapan air dan hara dibantu jamur. Benang-benang hifa jamur memiliki akses dan jangkauan lebih luas dalam mengeksploitasi nutrisi pada suatu area (Smith and Read, 1997).

Mikoriza berpotensi besar sebagai pupuk hayati karena salah satu sumber mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut dapat memfasilitasi penyerapan hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Akan tetapi adakalanya asosiasi mikoriza tidak selalu menguntungkan tanaman inangnya tergantung pada faktor lingkungan (Paul and Pang, 1980). Dengan demikian hanya beberapa atau tidak semua mikoriza bermanfaat bagi tanaman inangnya. karena terdapat perbedaan kemampuan spesies mikoriza dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, maka perlu dilakukan identifikasi mikoriza dari beberapa family tumbuhan yang akan di jadikan sebagai sumber Mikoriza.

Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa bobot buah tomat (Hasbi, 2005) yang diinokulasikan dengan fungi mikoriza dapat meningkat masing-masing sebesar 76,1% dan 85% dibandingkan kontrol. Beberapa manfaat mikoriza bagi pertumbuhan tanaman antara lain: (1) meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman dari dalam tanah. Hal ini disebabkan mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro. Eksplorasi hifa pada media tumbuh juga lebih luas dibandingkan dengan akar tanaman (Satomura et al. 2009; Santoso at al. 2009); (2) Meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan. Pada akar bermikoriza kerusakan jaringan kortek tidak akan bersifat permanen. Akar bermikoriza akan cepat pulih, karena hifanya masih mampu menyerap air pada pori tanah, dan penyebaran hifa yang luas akan dapat menyerap air lebih banyak (Querejeta et al. 2003), dan (3) Meningkatkan ketahanan terhadap serangan patogen. Mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya infeksipatogen akar, perlindungan ini terjadi karena adanya lapisan hifa sebagai pelindung fisik dan antibiotika yang dikeluarkan oleh mikoriza (Whipps 2004) dan (4) Menghasilkan beberapa zat pengatur tumbuh. Fungi mikoriza dapat menghasilkan hormon auksin, sitokinin, gibberelin, dan vitamin yang bermanfaat untuk inangnya (Allen et al, 2003). Auksin dapat berfungsi untuk mencegah atau menghambat proses penuaan dan suberinasi akar sehingga umur dan fungsi akar dapat diperpanjang. Manfaat lainnya ialah (5) Beberapa fungi ektomikoriza menghasilkan tubuh buah yang dapat dimakan/dikonsumsi oleh manusia, sehingga memberikan hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomi dan gizi yang tinggi, dari hasil penelitian ini diharapkan akan ditemukan beberapa sumber Jamur Mikoriza Vesikular Albuskular dari lahan gambut (Hall et al. 2003).

Berdasarkan hal tersebut sehingga makalah ini disusun untuk memberikan informasi terkait dengan mikoriza.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu mikoriza?

2. Bagaimana syarat tumbuh mikoriza?

3. Bagaimana proses kerja mikoriza?

4. Bagaimana peranan mikoriza terhadap tanaman?

5. Bagaimana hasil penelitian terkait pemanfaatan mikoriza?

1.3 Tujuan 

1. Untuk mengetahui apa itu mikoriza.

2. Untuk mengetahui syarat tumbuh mikoriza.

3. Untuk mengetahui proses kerja mikoriza.

4. Untuk mengetahui peranan mikoriza terhadap tanaman.

5. Untuk mengetahui penelitian pemanfaatan mikoriza.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Mikoriza Vesikular Arbuskular 

Mikoriza Arbuskular (FMA) merupakan asosiasi antara fungi tertentu dengan akar tanaman dengan membentuk jalinan interaksi yang komplek. Mikoriza berasal dari kata miko (mykes = fungi) dan rhiza yang berarti akar. Mikoriza dikenal dengan fungi tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai fungi tanah, FMA juga biasa dikatakan sebagai fungi akar. Keistimewaan dari fungi ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara fosfor atau P (Syib’li, 2008).

Secara umum Mikoriza dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, Endomikoriza / Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) dan Ektomikoriza. Mikoriza dalam kelompok Endomikoriza dicirikan dengan adanya struktur berupa vesikel dan arbuskul. Vesikel merupakan penggelembungan hifa MVA yang berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan. Arbuskul merupakan sistem percabangan hifa yang kompleks, bentuknya seperti akar yang halus. Arbuskul berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara jamur dan tanaman. MVA termasuk kelompok mikoriza yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) (Kasiono, 2011). 

Mikoriza merupakan salah satu kelompok fungi yang bersimbiosis mutualisme dengan akar tanaman tingkat tinggi (Rao, 1994). Mikoriza vesikular-arbuskular (MVA) merupakan salah satu kelompok endomikoriza dari familia Endogonaceae yang memiliki ciri khusus yaitu adanya vesikula dan arbuskula (Schinner et al., 1996 dalam Prihastuti, 2007). Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Asosiasi terjadi bila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi.

Fungi Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi di dalam akar tanaman yaitu fungi mengolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon hasil fotosintesis dari tanaman.

Mikoriza memiliki peranan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, peranan Mikoriza bagi tanaman sebagai berikut : a) Mikoriza meningkatkan penyerapan unsur hara, b) Mikoriza melindungi tanaman inang dari pengaruh yang merusak yang disebabkan oleh stres kekeringan, c) Mikoriza dapat beradaptasi dengan cepat pada tanah yang terkontaminasi, d) Mikoriza dapat melindungi tanaman dari patogen akar e) Mikoriza dapat memperbaiki produktivitas tanah dan memantapkan struktur tanah. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan cendawan Mikoriza mampu meningkatkan serapan hara, baik hara makro maupun hara mikro, sehingga penggunaan Mikoriza dapat dijadikan sebagai alat biologis untuk mengurangi dan mengefisienkan penggunaan pupuk buatan. Data dari penelitian Hapsoh (2005) menyatakan bahwa peranan positif MVA jelas terlihat pada keadaan cekaman kekeringan (40% KL) yaitu meningkatkan hasil biji kering pada tanaman kedelai.

2.2 Syarat Tumbuh Mikoriza

2.2.1 Suhu

Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Untuk daerah tropika basah, hal ini menguntungkan. Proses perkecambahan pembentukkan MVA melalui tiga tahap yaitu perkecambahan spora di tanah, penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa didalam konteks akar. Suhu optimum untuk perkembangan spora sangat beragam tergantung jenisnya. Beberapa Gigaspora yang diisolasi dari tanah Florida, di wilayah subtropika mengalami perkecambahan paling baik pada suhu 34°C, sedangkan untuk spesies Glomus yang berasal dari wilayah beriklim dingin, suhu optimal untuk perkecambahan adalah 20°C (Pujianto, 2001).

Penetrasi dan perkecambahan hifa diakar peka pula terhadap suhu tanah.Pada umumnya infeksi oleh cendawan MVA meningkat dengan naiknya suhu. Infeksi maksimum oleh spesies Gigaspora yang diisolasi dari tanah Florida terjadi pada suhu 30-33°C. Suhu yang tinggi pada siang hari (35°C) tidak menghambat perkembangan dan aktivitas fisiologis MVA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu di atas 40°C. Suhu bukan merupakan faktor pembatas utama dari aktifitas MVA. Suhu yang sangat tinggi berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang. MVA mungkin lebih mampu bertahan terhadap suhu tinggi pada tanah bertekstur berat daripada di tanah berpasir (Schreder, 1974 dan Atmaja 2001)

2.2.2 pH Tanah

Cendawan pada umumnya lebih tahan lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan MVA terhadap pH tanah berbeda-beda, karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan, perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman. Glomus fasciculatus berkembang biak pada pH masam. Pengapuran menyebabkan perkembangan G. fasciculatus menurun (Mosse, 1981 cit Atmaja, 2001). Demikian pula peran G. fasciculatus di dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman pada tanah masam menurun akibat pengapuran (Santoso, 1988). Pada pH 5,1 dan 5,9 G. fasciculatus menampakkan pertumbuhan yang terbesar, G. fasciculatus memperlihatkan pengaruh yang lebih besar terhadap pertumbuhan tanaman justru kalau pH 5,1 G. mosseae memberikan pengaruh terbesar pada pH netral sampai alkalis (pH 6,0-8,1). Perubahan pH tanah melalui pengapuran biasanya berdampak merugikan bagi perkembangan MVA asli yang hidup pada tanah tersebut sehingga pembentukan mikoriza menurun (Santosa, 1989).Untuk itu tindakan pengapuran dibarengi tindakan inokulasi dengan cendawan MVA yang cocok agar pembentukan mikoriza terjamin.

2.2.3 Bahan Organik

Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping air dan udara.Jumlah spora MVA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organic didalam tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organic 1-2 persen sedangkan pada tanah-tanah berbahan anorganic kurang dari 0,5 persen kandungan spora sangat rendah (Pujianto, 2001). Residu akar mempengaruhiekologi cendawan MVA, karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi MVA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Serasah akar tersebut mengandung hifa,vesikel dan spora yang dapat menginfeksi MVA. Disamping itu juga berfungsi sebagai inokulasi untuk tanaman berikutnya.

2.2.4 Cahaya dan Unsur Hara

Bjorman Gardemann (1983) cit Atmaja (2001) menyimpulkan bahwa dalam intensitas cahaya yang tinggi kekahatan nitrogen atau fosfor akan meningkatkan jumlah karbohidrat di dalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi cendawan MVA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanahtanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh MVA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi MVA meningkat. Peran mikoriza yang erat dengan peyediaan P bagi tanaman menunjukkan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi MVA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Setiadi, 2001). 

Hayman (1975) dalam Atmaja (2001) mengadakan studi yang mendalam mengenai pemupukan N dan P terhadap MVA pada tanah di wilayah beriklim sedang. Pemupukan N (188 kg N/ha) berpengaruh buruk terhadap populasi MVA. Petak yang tidak dipupuk mengandung jumlah spora 2 hingga 4 kali lebih banyak dan berderajat infeksi 2 hingga 4 kali lebih tinggi dibandingkan petak yang menerima pemupukkan. Hayman mengamati bahwa pemupukkan N lebih berpengaruh daripada pemupukkan P, tetapi peneliti lain mendapatkan keduanya memiliki pengaruh yang sama.

2.3 Mekanisme Kerja Mikoriza

Jamur yang menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, akan memproduksi jalinan hifa secara intensif di luar sel akar, di dalam sel akar atau di luar dan di dalam sel akar sekaligus. Hifa jamur memperpanjang daya jelajah akar dalam mencari unsur hara tanah dan air. Luas rizosfir tanaman bermikoriza 100 kali lebih besar dari tanaman tanpa mikoriza.Akar tanaman yang bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (fosfor, nitrogen) dan air.

        Terjadinya infeksi mikoriza pada akar tanaman melalui beberapa tahap, yakni :

a. Pra infeksi. Spora dari mikoriza berkecambah membentuk appressoria.

b. Infeksi. Dengan alat apressoria melakukan penetrasi pada akar tanaman.

c. Pasca infeksi. Setelah penetrasi pada akar, maka hifa tumbuh secara interselluler, arbuskula terbentuk didalam sel saat setelah penetrasi. Arbuskula percabangannya lebih kuat dari hifa setelah penetrasi pada dinding sel. Arbuskula hidup hanya 4-15 hari, kemudian mengalami degenerasi dan pemendekan pada sel inang. Pada saat pembentukan arbuskula, beberapa cendawan mikoriza membentuk vesikel pada bagian interselluler, dimana vesikel merupakan pembengkakan pada bagian apikal atau interkalar dan hifa.

d. Perluasan infeksi cendawan mikoriza dalam akar terdapat tiga fase:

1) Fase awal dimana saat infeksi primer.

2) Fase exponential, dimana penyebaran, dan pertumbuhannya dalam akar lebih cepat .

3) Fase setelah dimana pertumbuhan akar dan mikoriza sama.

e. Setelah terjadi infeksi primer dan fase awal, pertumbuhan hifa keluar dari akar dan di dalam rhizosfer tanah. Pada bagian ini struktur cendawan disebut hifa eksternal yang berfungsi dalam penyerapan larutan nutrisi dalam tanah, dan sebagai alat transportasi nutrisi ke akar, hifaeksternal tidak bersepta dan membentuk percabangan dikotom.

2.4 Peranan Mikoriza terhadap Tanaman

2.4.1 Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara

Tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik dari pada yang tidak bermikoriza, dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsure hara mikro. Selain itu akar tanaman yang bermikoriza dapat menyerap unsure hara dalam bentuk terikat dan tidak tersedia untuk tanaman. Unsure hara yang meningkat penyerapannya adalah N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Mn dan Zn. Hubungan antara MVA dengan organisme tanah tidak bisa diabaikan, karena secara bersama-sama keduanya membantu pertumbuhan tanaman (Rungkat, 2009).

2.4.2 Tahan terhadap Patogen 

Nuhamara, (2009) menjelaskan bahwa Mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya infeksi patogen akar. Mekanisme perlindungan ini bisa diterangkan sebagai berikut: 

a) Adanya lapisan hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai pelindung fisik untuk masuknya pathogen

b) Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya, sehinga tidak cocok bagi patogen.

c) Fungi mikoriza dapat melepaskan antibiotik yang dapat menghambat perkembangan patogen.

2.4.3 Memproduksi Hormon dan Zat Pengatur Tumbuh

Fungi mikoriza dapat memberikan hormon seperti Auxin, Sitokinin, Giberellin, juga zat pengatur tumbuh seperti vitamin kepada inangnya. (Rungkat, 2009)

2.5 Pemanfaatan Mikoriza

Banyak peneliti yang telah melaporkan pemanfaatan mikoriza, diantaranya:

2.5.1 Kombinasi Trichoderma harzianum dan Pupuk Mikoriza untuk Mengendalikan Penyakit Moler pada Tanaman Bawang Merah

Tabel 1. Pengaruh Kombinasi Perlakuan T. harzianum dengan Mikoriza terhadap Keparahan Penyakit Moler


Sumber: Aini, 2018


Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi dosis pupuk hayati Mikoriza 10 gram/tanaman dan konsentrasi T.harzianum 108  konidia/mL merupakan kombinasi terbaik untuk menekan perkembangan penyakit moler pada bawang merah.

2.5.2 Respons Tanaman Bawang Merah Terhadap  Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Dan Pemotongan Umbi Pada Gambut 

Tabel 2. Pengaruh Pemotongan Umbi terhadap Berat Kering Umbi

Sumber: Wiliodorus, Sasli dan Syahputra, 2020 2018


Hasil sidik ragam berat kering umbi diketahui bahwa hasil tertinggi terdapat pada perlakuan (p3) yaitu 92,37 g apabila dikonversikan maka diperoleh hasil produksi per hektar 18,47 ton/ha dengan asumsi populasi tanaman 200.000 jarak tanam 15x15 cm. Hasil terendah terdapat pada perlakuan p1 yaitu pemotongan bagian atas umbi bibit bawang merah dengan 62,75 g, jika dikonversikan hasil produksi per hektar 12,55 ton/ha, pada umbi yang tidak diberikan perlakuan (p0) 71,96 g hasil produksi 14,39 ton/ha. Potensi produksi dari bawang merah tajuk berkisar 12-16 ton/ha, dari hasil penelitian tanpa diberikan perlakuan sudah mencapai potensi produksi dari bawang merah.


2.5.3 Hasil Empat Varietas Bawang Merah dengan Aplikasi Pupuk Hayati Mikoriza di Desa Seteluk Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat


Tabel 3. Hasil Pengamatan Demplot Empat Varietas Bawang Merah


Sumber: Astiko et. al., 2018


Dari hasil percobaan tersebut terlihat bahwa dari parameter bobot umbi segar, bobot umbi kering, jumlah daun dan tinggi tanaman per rumpun nampak bahwa pertumbuhan tanaman bawang merah varietas Keta Monca sangat bagus. Dari penampilannya di lapangan varietas ini juga lebih adaptif dengan iklim setempat tetap tumbuh subur dan berumbi bagus. Untak varietas lainnya (Super Filip, Berebes dan Vietnam) nampak harus beradaptasi dengan kondisi iklim setempat. Ini terlihat dari jumlah umbinya banyak, namun umbinya kecil-kecil dan tanamannya mengalami stress. Selain itu, diduga respon bawang merah varietas Keta Monca terhadap pupuk hayati mikoriza sangat bagus, sehingga mampu secara nyata meningkatkan pertumbuhannya. Fakta ini terlihat dari derajat infeksi pada akar yang mencapai 79% dan jumlah spora per 100 g tanah mencapai 3970 spora per 100 g tanah. Iini berdampak bagus pada komponen hasil yaitu bobot umbi segar yang mencapai 127 kg per are atau setara dengan 12,7 ton per ha. Hasil ini sungguh menggembirakan dan melampaui jauh dari rata-rata teknologi konvensional yang biasa dibudidayakan petani yang berkisar pada hasil 6 ton per ha. 

Peningkatan hasil yang tinggi ini disebabkan karena peranan mikoriza yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman dengan sangat baik terutama jika dibarengi dengan pemberian pupuk kandang pada tanaman bawang merah, sehingga pada akhirnya memberikan sumbangan yang nyata dalam peningkatan hasil tanaman. Peranan tersebut yaitu meningkatkan daya serap air, meningkatkan kesediaan unsur hara, meningkatkan kapasitas tukar kation dan meningkatkan aktivitas mikoriza. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang mengemukakan efektivitas spora mikoriza indigenus mampu secara efektiv meningkatkan hasil bawang merah (Astiko et al, 2018). Hal yang serupa juga ditemukan pada beberapa tanaman seperti jagung, bawang merah, semangka, kedelai, cabai dan tomat menunjukkan tanaman yang diinokulasi dengan mikoriza memberikan hasil yang lebih baik daripada tanaman yang tidak diinokulasi. Astiko et al. (2013) yang memfokuskan kajiannya pada pemanfaatan pupuk organik berbasis mikoriza untuk meningkatkan hasil kedelai di daerah semi arid tropis Lombok Utara juga memberikan hasil serupa, aplikasi pupuk hayati mikoriza indigenus disertai pemberian pupuk kandang mampu meningkatkan kinerja biologis mikoriza yang pada ahirnya dapat meningkatkan hasil tanaman.  


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari makalah diatas, dapat disimbulkan bahwa:

1. Mikoriza merupakan salah satu kelompok fungi yang bersimbiosis mutualisme dengan akar tanaman tingkat tinggi.

2. Hal-hal yang mempengaruhi kerja mikoriza yaitu: suhu, pH tanah, bahan organik, cahaya dan unsur hara.

3. Jamur yang menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, akan memproduksi jalinan hifa secara intensif di luar sel akar, di dalam sel akar atau di luar dan di dalam sel akar sekaligus.

4. Peranan mikoriza terhadap tanaman diantaranya: meningkatkan penyerapan unsur hara, meningkatkan ketahanan terhadap patogen, meningkatkan ketahanan cekaman kekeringan, memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh

3.2 Saran

Dengan melihat peranan mikroba dalam menyediakan unsur hara serta zat pengatur tumbuh, maka perlu dikaji lebih mendalam terkait jenis-jenis mikroba yang bermanfaat bagai tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Aini D. L. Q. 2018. Kombinasi Trichoderma harzianum dan Pupuk Mikoriza untuk Mengendalikan Penyakit Moler pada Tanaman Bawang Merah. [skripsi] Universitas Jember.

MF, Swenson W, Querejeta JJ, Warburton LME, Treseder KK. 2003. Ecology of mycorrhizae: A conceptual framework for complex interactions among plants and fungi. Annu Rev Phytopathol41:271–303.

Astiko, W., I.R. Sastrahidayat, S. Djauhari dan A. Muhibuddin. 2013. Peranan mikoriza indigenus pada pola tanam berbeda dalam meningkatkan hasil kedelai di tanah berpasir (studi kasus di lahan kering Lombok Utara. Disertasi, Pascasarjana Universitas Brawijaya. pp. 210

Astiko, W, Sudantha, I.M. Isnaini, M dan Ernawati, N.M.L. 2018. Upaya meningkatkan hasil bawang merah dengan aplikasi pupuk hayati mikoriza di Desa Seteluk Kecamatan Batulayar Lombok Barat, J. Abdi Insani. 7(2): 45-54

Astiko W., I. M. Sudandtha, M. Windarningsih dan I. Muthahanas. 2018. Hasil Empat Varietas Bawang Merah dengan Aplikasi Pupuk Hayati Mikoriza di Desa Seteluk Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Sinergitas PkM dan CSR. 3 (1) : 1-10.

Atmaja, I. W. D. 2001. Bioteknologi Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar. 

Hall, Yun W, Amicucci A. 2003. Cultivation of edible ectomycorrhizal mushroom.Trend in Biotechnol21 : 433-438.

Hasbi, R. 2005. “Studi Diversitas Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Pada Berbagai Tanaman Budidaya di LahanGambut Pontianak”.JurnalAgrosains 2(1):46-51.

Nuhamara, S. T. 2009. Peranan Mikoriza untuk Reklamasi Lahan Kritis. Program Pelatihan Biologi dan Bioteknologi Mikoriza.

Paul, E. A and C Pang, P. . 1980. “Effect Of VAM On 14 C And 15 N Distribution In NodulatedFababeans”. Journal Soil, 60, : 241-249.

Pujianto. 2001. Pemanfaatan Jasad Mikroba, Jamur Mikoriza dan Bakteri dalam System Pertanian Berkelanjutan di Indonesia, Tinjauan dari Presektif Falsafah Sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Pertanian Bogor.

Querejeta JI, Egerton-Warburton LM, Allen MF. 2003. Direct nocturnal water transfer from oaks to their mycorrhizalsymbionts during severe soil drying. Oecologia134:55–64.

Rungkat, J. A. 2009. Peranan VMA Dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman. Jurnal FORMAS 4. Hal 270-276.

Santosa, B. 1989.Mikoriza: Peranan dan Hubunganya dengan Kesuburan Tanah. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

Santoso E. 1988. Pengaruh Mikoriza terhadap diameter dan berat kering anakan Dipterocorparaceae.Bul pen Hutan.532: 11-18.

Setiadi, Y. 1989. Pemanfaatan Mikro Organisme dalam Kehutanan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB. Bogor.

Smith, S. E. dan Read.1997 .Mycorrhizal symbiosis. Academic Press, London.

Whipps JM. 2004. Prospects and limitations for mycorrhizas in biocontrol of root pathogens. Can J Bot,82:1198–1227.

Wiliodorus, W. Sasli, E. Syahputra. 2020. Respons Tanaman Bawang Merah terhadap Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan Pemotongan Umbi pada Gambut. Agrofood. 2 (2) : 29-41.


2:37 PM | 0 komentar | Read More